Main Article Content

Abstract

Kekerasan di lingkungan satuan pendidikan masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius karena berdampak terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan akademik peserta didik. Fenomena bullying, kekerasan verbal, intimidasi, dan pengucilan sosial sering kali dianggap sebagai bagian biasa dari interaksi sosial di lingkungan sekolah sehingga berpotensi membentuk budaya kekerasan yang terus berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas perlindungan anak di lingkungan pendidikan dengan realitas sosial yang masih ditemukan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan edukatif yang komunikatif dan sesuai dengan perkembangan psikologis anak untuk membangun budaya anti kekerasan sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat budaya anti kekerasan di satuan pendidikan melalui metode story telling dengan pendekatan hukum, sosial, dan antropologi. Kegiatan dilaksanakan di SD Inpres IKIP pada tanggal 16 Oktober 2025 dengan melibatkan siswa/i kelas III, IV, V, dan VI, guru, tenaga kependidikan, serta mahasiswa KKN-PPL Terpadu Universitas Negeri Makassar. Metode pelaksanaan dilakukan melalui tahapan observasi awal, edukasi interaktif, penyampaian materi, story telling, diskusi partisipatif, dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa metode story telling mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai bentuk-bentuk kekerasan di lingkungan sekolah serta pentingnya sikap empati, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama. Pendekatan multidisipliner melalui perspektif kriminologi, perlindungan anak, dan antropologi pendidikan juga membantu peserta memahami dampak perilaku bullying serta pentingnya membangun budaya sekolah yang aman, humanis, dan ramah anak.

Keywords

Story Telling Anti Kekerasan Bullying Perlindungan Anak Satuan Pendidikan

Article Details